FIP pada Kucing: Pengalaman Nyata, Perawatan, dan Pelajaran Berharga

Disclaimer: Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis dalam menghadapi kasus FIP pada kucing. Saya bukan dokter hewan. Untuk pengobatan dan diagnosis yang tepat, konsultasikan langsung ke dokter hewan profesional.

FIP-virus-kucing

Apa Itu FIP (Feline Infectious Peritonitis)?

FIP adalah penyakit virus fatal pada kucing yang disebabkan oleh mutasi dari Feline Coronavirus (FCoV). Virus ini dapat berkembang menjadi FIP yang menyerang sistem tubuh, termasuk rongga perut dan organ dalam, dan sering berakibat fatal jika tidak ditangani segera. Sumber

Ada dua bentuk FIP yang umum:

  • FIP Basah (Effusive): Penumpukan cairan di rongga tubuh, membuat perut membesar dan sering kali menyebabkan kesulitan bernapas.

  • FIP Kering (Non-effusive): Tidak ada penumpukan cairan, tetapi terjadi peradangan kronis pada organ seperti mata, hati, saraf, serta sistem imun

Gejala FIP yang Perlu Diwaspadai

Dari pengalaman saya dengan kucing kesayangan, berikut gejala yang muncul sebelum akhirnya terdiagnosis FIP:

  • Nafsu makan menurun drastis

  • Pernapasan cepat atau terlihat berat

    Advertisements
  • Penurunan berat badan signifikan

  • Perut membesar (pada kasus FIP basah)

  • Lemas, kurang responsif

  • Kelainan perilaku dan terlihat tidak nyaman

Gejala FIP bisa sangat mirip dengan penyakit lain, sehingga tidak bisa langsung dipastikan hanya dari satu tanda klinis saja dan perlu pemeriksaan dokter hewan.

Minggu Kedua: Ketergantungan Obat dan Kondisi yang Mulai Naik Turun

Memasuki minggu kedua perawatan, saya hanya kembali membeli obat karena persediaan sebelumnya sudah habis. Namun sayangnya, pada salah satu malam saya terlambat memberikan obat, dan kondisi sesak napasnya kembali terjadi.

Dari situ saya mulai menyadari satu hal penting: setiap kali obat terlambat atau habis, sesak napasnya langsung memburuk. Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa kucing saya masih bisa bertahan dan bernapas lebih baik karena bantuan obat tersebut.

Setelah sampai di rumah, kondisinya sempat membaik. Ia sudah bisa makan sendiri, dan jujur saja, hati saya sangat senang melihatnya. Bahkan sesekali ia masih bisa diajak bermain ringan. Walaupun sudah tidak bisa melompat, kedua tangannya masih mampu menggapai mainan, yang bagi saya saat itu sudah terasa seperti harapan kecil.

 

Tindakan Awal di Klinik Hewan Saat Kucing Mengalami Sesak Napas

Saat pertama kali kucing saya dibawa ke klinik hewan, belum dilakukan pemeriksaan darah atau tes lanjutan. Berdasarkan pemeriksaan awal, dokter menyampaikan bahwa kondisinya mengarah pada adanya peradangan, kemungkinan di paru-paru, jantung, atau organ vital lainnya.

Dokter kemudian memutuskan untuk memberikan tindakan awal berupa pengobatan, yang terdiri dari:

  • Dua jenis antibiotik

  • Satu obat sirup untuk lambung (saat itu saya tidak mengetahui nama obatnya)

  • Satu obat racikan khusus dari klinik

Melihat kondisi kucing yang belum makan dan mengalami kesulitan bernapas, saya meminta kepada dokter,

“Dokter, mohon dibantu untuk tindakan awal. Dia belum makan dan sulit bernapas, tolong diberikan infus.”

Menurut saya secara logika, akan sangat sulit memberikan obat secara oral dalam kondisi seperti itu. Infus menjadi pertolongan pertama agar tubuhnya tetap mendapatkan cairan dan energi.

Akhirnya, dokter memasang infus melalui area pundak, atau yang sering disebut sebagai infus jalan, untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya.

Setelah itu, saya kembali meminta bantuan kepada dokter,

“Dokter, mohon dibantu lagi, mungkin dia membutuhkan bantuan oksigen. Kasihan melihat napasnya.”

Namun saat alat oksigen dipasang, kucing saya memberikan perlawanan. Oksigen yang tersedia saat itu menggunakan corong, yang kemungkinan membuatnya merasa tidak nyaman dan semakin gelisah. Dokter pun menjelaskan bahwa jika kucing menolak dan terlihat stres, maka alat tersebut tidak boleh dipaksakan.

Benar adanya, pada kondisi seperti ini kucing sama sekali tidak boleh mengalami stres, karena justru dapat memperburuk keadaannya. Dan pada saat itu, dengan segala keterbatasan yang ada, tidak banyak lagi yang bisa kami lakukan selain menunggu dan memantau kondisinya.

 
Oxygen for cats okamotret
Oxygen for cats okamotret

Minggu Ketiga: Kontrol Kembali dan Kondisi yang Kembali Memburuk

Memasuki minggu ketiga, keterlambatan pemberian obat hanya sekali saja sudah cukup membuat napasnya kembali parah. Saya pun langsung membawanya kembali untuk kontrol ke klinik hewan.

Dokter menyampaikan dengan tegas,

“Dia tidak boleh telat sekalipun minum obat. Pengobatan ini harus rutin dan bisa berjalan berbulan-bulan sampai kondisinya benar-benar membaik. Dari kondisi sekarang, sepertinya Bubu masih bisa tertolong.”

Namun di sisi lain, rasa kasihan saya semakin besar. Melihat kondisinya yang terus berjuang untuk bernapas, saya sempat bertanya dengan berat hati,

“Dok, apakah memungkinkan dilakukan suntik eutanasia?”

Ini bukan keputusan yang mudah sama sekali. Dokter saat itu menolak, karena masih melihat adanya peluang untuk bertahan.

Yang membuat saya semakin sedih adalah melihat cara tidurnya. Sejak sesak napas itu muncul, dia tidak pernah tidur dengan nyenyak. Ia sering tidur dalam posisi berdiri. Bahkan saat mencoba berbaring, kepalanya harus menempel di lantai dengan kedua tangan menjulur ke depan, seolah mencari posisi paling nyaman agar tetap bisa bernapas.


Tindakan Darurat yang Kembali Terjadi di Klinik

Di klinik, saya kembali meminta,

“Tolong dok, bantu beri dia oksigen dan infus. Badannya sudah sangat kurus, tidak mau minum dan makan.”

Di titik ini, saya mulai merasa bingung dan bertanya dalam hati. Mengapa dalam kondisi darurat seperti ini saya yang harus terus meminta tindakan? Seharusnya dokter hewan, dengan pengalaman medisnya, bisa lebih sigap menentukan langkah apa yang perlu dilakukan.

Saya juga sempat bertanya,

“Apa perlu dilakukan cek darah atau scan, Dok?”

Namun dokter menjawab bahwa hal tersebut tidak diperlukan, karena menurut firasat dan pengalamannya, sekitar 90% kucing saya mengalami peradangan pada selaput paru-paru, dan obat baru bisa diberikan saat kondisi napasnya sudah agak membaik.


Hari Berikutnya: Bertemu Dokter Berbeda dan Masalah Baru

Keesokan harinya, saya kembali membawa Bubu ke klinik yang sama, namun ditangani oleh dokter yang berbeda. Di sinilah mulai muncul masalah baru.

Secara teknis, penanganannya terasa seperti dimulai dari nol lagi, meskipun masih di klinik yang sama. Dokter tersebut menyampaikan bahwa untuk memastikan apakah ini FIP atau bukan, perlu dilakukan pemeriksaan rontgen (X-Ray).

Awalnya saya meminta satu sisi foto rontgen dada saja. Namun dokter menjelaskan bahwa agar hasilnya lebih jelas, diperlukan dua sisi foto, yaitu:

  • Tampak atas bagian dada

  • Tampak samping dada

Biaya rontgen tersebut sekitar Rp500.000, karena dilakukan dari dua sisi.

foto Rontgen kucing

Diagnosis Akhir: Positif FIP dan Kondisi yang Semakin Memburuk

Ternyata, pemeriksaan rontgen saja belum cukup untuk memastikan apakah kucing saya benar-benar terkena FIP. Untuk memastikan diagnosis secara lebih akurat, dokter menyarankan dilakukan tes lanjutan berupa rapid test FIP.

Rapid test ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari area dada atau paru-paru Bubu. Biaya pemeriksaan rapid test tersebut sekitar Rp250.000.
Setelah tes dilakukan, hasilnya menunjukkan dua garis, yang menurut dokter menandakan bahwa Bubu dinyatakan positif FIP.

Setelah diagnosis tersebut, dokter kembali memberikan obat. Namun saat itu saya sempat bingung karena jenis obat yang diberikan berbeda dari sebelumnya. Ketika saya tanyakan, dokter menjelaskan bahwa obat tersebut merupakan gabungan dari beberapa jenis yang diracik menjadi satu kapsul.

rapid test kucing

Kondisi Memburuk dan Upaya Terakhir di Rumah

Padahal, baru sehari sebelumnya Bubu berobat ke klinik, namun kondisinya justru semakin memburuk. Napasnya menjadi sangat berat dan tidak teratur. Beberapa kali ia berguling, lalu berdiri kembali, seolah berusaha mencari posisi agar bisa bernapas lebih lega.

Di momen itu, saya benar-benar tidak bisa menahan air mata. Dalam hati saya hanya bertanya,
“Bubu, apa lagi yang bisa kami lakukan?”

Dalam kondisi darurat seperti ini, dengan sangat berat hati saya sedikit memaksakan memberikan obat, disertai sedikit air, hanya agar ia tidak mengalami dehidrasi dan tetap mendapatkan asupan cairan.


Detik-Detik Terakhir Bubu

Karena tidak tega melihat kondisinya, saya berencana membawanya kembali ke klinik untuk mendapatkan bantuan oksigen. Namun saat Bubu dimasukkan ke dalam tas kucing, ia mengembuskan napas terakhirnya di dalam pelukan saya.

Ia menghela napas dua kali hentakan terakhir, lalu pergi untuk selamanya.

Ya Allah… sedihnya luar biasa.
Hati saya hancur.

Yang membuat saya semakin terpukul adalah kenyataan bahwa dua jam sebelumnya saya baru saja membuka donasi melalui YouTube, karena selama hampir tiga minggu perawatan, biaya yang sudah dikeluarkan cukup besar. Apalagi, menurut dokter, Bubu membutuhkan perawatan rutin yang bisa berlangsung berbulan-bulan.

Namun Tuhan berkehendak lain.
Bubu pergi sebelum semua itu sempat terjadi.

Donasi Tetap Dibuka untuk Membantu Kucing Lain

Open donasi tetap saya buka. Jika dana yang terkumpul nantinya ada, akan saya salurkan sepenuhnya untuk membantu kucing lain yang sedang berjuang melawan penyakit ini.

Bagi teman-teman yang ingin memberikan dukungan atau donasi, silakan klik link Donasi yang telah saya sediakan.

Refleksi: Apa yang Salah dan Menjadi Pelajaran Besar

Yang terus menjadi pertanyaan di kepala saya adalah:
mengapa pada hari Sabtu masih berobat, namun keesokan harinya kucing saya meninggal?

Setelah Bubu berpulang, saya kembali menghubungi dokter yang menangani, dengan menyertakan foto kondisi Bubu dan menanyakan apakah dosis obatnya sempat dikurangi.

Dokter tersebut menjawab bahwa takaran obat memang dikurangi.

Mendengar hal itu, saya benar-benar terkejut dan kecewa. Sejak awal saya sudah menyampaikan bahwa Bubu tidak bisa bertahan tanpa obat, dan dosisnya tidak boleh dikurangi karena setiap kali obat terlambat atau berkurang, kondisi napasnya langsung memburuk.

Kejujuran ini saya sampaikan bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi sebagai catatan penting dan pelajaran bagi saya pribadi dan mungkin juga bagi pemilik kucing lainnya. Saya merasa sangat kecewa, karena:

  • Penanganan terasa berbeda saat ditangani dokter yang berbeda

  • Obat yang diberikan berubah dari sebelumnya

  • Kondisi Bubu justru semakin memburuk setelah perubahan tersebut

Dokter yang biasa menangani Bubu sebelumnya masih memberikan harapan. Namun saat penanganan berganti, pendekatan dan pengobatan pun berubah, dan di situlah kondisi Bubu semakin parah hingga akhirnya berpulang.

obagt kucing

Baiklah saya tidak 100% menyalahkan dokter, banyak akibat yang bisa terjadi karena ketidak tahuan saya.

Apa saja Kesalahan tersebut menurut saya sendiri adalah :

  1. Jangan pernah memasukan apapun kemulutnya bahkan sekalipun obat disaat kondisinya susah bernafas tidak ada yang bisa teman lakukan selain mengelus kepalanya dan membiarkan dia berdamai dengan dirinya sendiri. 5 menit setelah di masukan kapsul obat si bubu mati karena mungkin tenggorokannya kesedak karena kapsul tidak cepat larut kena air. Jadi kalau bisa minta obat kapsul yang cepat cair atau obat cairan melalui suntik.
  2. Berikan pertolongan utama yang nyata yaitu Oksigen dan Infus untuk nutrisi
  3. Jangan membuat dia strees seperti di bawa main keluar, ketemu kucing lain, sering mengendong dia apa lagi dilakukan tidak benar. Dadanya jangan sampai ke tekan ya sob.
  4. Seharusnya ada tindakan nyata seperti mengeluarkan cairan dari rongga perut dan dada, serta pemberian antimuntah, antiradang, dan interferon atau di mana dia bisa bernafas walaupun tidak menyembuhkan 100% tapi dia lega sedikit bernafas dan saat itu baru bisa teman kasih obat di saat nafas dia mulai tenang.
  5. Carilah dokter yang berpengalaman dan pernah memberikan pengobatan terhadap penyakit FIP. ini adalah penyakit langka mungkin butuh ilmu dan jam terbang dokter yang berpengalaman. 
  6. Jangan memberikan terapi uap dan hal lain nya, itu hanya akan memperburuk kondisinya. Karena ini sudah saya praktekan, tidak banyak yang bisa sahabat lakukan 
Kesimpulan saya ini benar-benar penyakit yang sangat berbahaya dan menakutkan, si Bubu dengan umur 7 bulan hanya mampu bertahan selama 25 hari.
 
Selamat jalan bubu sekarang kamu sudah tidak merasakan sesak sakit lagi, terimakasih selama 5 bulan ini kami merawatmu, mungkin tidak bisa menyelamatkan tapi kami telah berusaha. Tiap buka pintu biasa sudah standby berdiri kalau minta makan gua di bangunin tiap pagi. kenangan ini tak akan kami lupakan ?
 
Jadi sampai disini dulu sobat cat lover jika ada kucingnya yang sembuh setelah kena penyakit ini berikan masukan dan komentar pada kolom komentar. Jika artikel ini bermanfaat silahkan share dan bagikan. Terima kasih ciao..!!